![]() |
| kegiatan di pabrik timah |
KJBCNews.com,Jakarta – Belum pulihnya harga komoditas dunia memberikan dampak terhadap kinerja keuangan PT Timah (Persero) Tbk (TINS). Pasalnya, pada semester pertama tahun ini mencatatkan rugi bersih sebesar Rp138,8 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp6,41 miliar.
Direktur Utama Timah, Riza Pahlevi mengatakan, meningkatnya kerugian perseroan pada tiga bulan pertama tahun ini disebabkan adanya penurunan harga komoditas timah.”Harga di triwulan pertama sudah sulit, sekitar US$ 13 ribu per ton," ujarnya di Jakarta, Kamis (4/8).
Hal tersebut juga membuat perseroan harus menurunkan produksi di semester pertama tahun ini. Tercatat di kuartal pertama produksi biji timah turun dari 6.653 ton diperiode yang sama tahun lalu menjadi 3.405 ton dan produksi logam timah turun dari 7.057 ton menjadi 4.205 ton.
Perseroan pun berencana meningkatkan produksinya di semester kedua tahun ini. Riza meyakini, harga timah pun akan meningkat sehingga berada dikisaran US$ 18 ribu per ton."Jadi harapan kita bisa kejar produksi, tapi untuk melebihi tahun lalu sulit, kita kejar minimal sama. Kita akan tambah alata produksi dan pengawasan lebih ketat sehingga kita bisa memastikan peningkatan produksi di akhir tahun," imbuhnya.
Selain itu, perseroan juga akan meningkatkan kinerja dari anak usahanya yakni PT Rumah Sakit Bakti Timah dan PT Timah Industri. Sebab kedua anak usaha tersebut memiliki sumbangsih pendapatan yang cukup tinggi bagi perseroan."Timah Industri sudah jalan, karena land produksinya sudah jadi, Rumah Sakit Bakti Timah juga sudah profit sebenarnya. Jadi kita targetkan 10% pendapatan dari anak perusahaan,"paparnya.
Tahun ini, perseroan mengalokasikan dana belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp600 miliar. Rencananya, belanja modal tersebut akan digunakan untuk menambah kapal baru. Kata Riza Pahlevi, selain untuk menambah kapal, perseroan juga akan menganggarkan dana tersebut untuk melakukan perawatan fasilitas kapal yang sudah ada.”Kami akan memesan kapal untuk eksplorasi. Kita sedang lakukan finalisasi ekplorasi untuk memastika jenis kapala yang dibeli apa, size-nya berapa,"tuturnya.
Dengan adanya tambahan kapal, perseroan berharap akan dapat meningkatkan kinera perseroan ditahun-tahun mendatang. Pasalnya, kapal baru tersebut baru akan bisa digunakan sekitar 1-2 tahun lagi.”Pembelian kapal tidak bisa langsung. Karena dibuat dulu. Kita pesan akhir tahun ini, pengirimanya mungkin 1-2 tahun lagi," tandasnya.
Sebagai informasi, tahun ini perseroan mulai membidik bisnis sektor pembangkit listrik. Dijelaskan Riza, pembangkit listrik yang akan dibangun perseroan berbeda dengan pembangkit listrik lainnya, yakni pembangkit listrik tenaga thorium (PLTT). Saat ini hasil penambangan perseroan menghasilkan mineral monazite. Dimana ternyata mineral tersebut kedepannya akan sangat berharga. Sebab mineral tersebut menghasilkan limbah radioaktif thorium.”Kita ini mempunyai suatu mineral yang ternayata nilainya sangat berharga, bahkan lebih berharga dari logam komoditas," kata Riza.
Perseroan dalam hal ini masih harus terlebih dahulu memastkan cadangan dari thorium bsa untuk jangka panjang. Sehingga, perseroan harus melakukan kajian secara menyeluruh. (bani)
sumber-neraca.co.id


Post a Comment